Pada masa 'remaja' Bumi, sekitar 3,9 miliar tahun lalu,
gonjang-ganjing terjadi di Tata Surya. Ledakan dahsyat terjadi, planet
manusia dibombardir komet dan asteroid.
Bumi dibuat bopeng bukan kepalang. Namun, dari peristiwa kolosal tersebut kehidupan akhirnya muncul -- setidaknya itu yang dikatakan para ilmuwan.
Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasi di jurnal Nature Geoscience, meyakini bahwa kehidupan di Bumi terbentuk karena badai Matahari besar yang terjadi pada jutaan tahun lalu.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai hasil penelitian tersebut, akan lebih baik jika kita mengenal beberapa istilah seperti badai Matahari, solar flare, dan lontaran massa korona atau CME.
Badai Matahari adalah gabungan dari solar flare yang disebabkan oleh partikel bermuatan, biasanya elektron, dengan materi plasma Matahari.
Dilansir dari India Today, aktifitas magnetik yang menjalankan reaktor inti Matahari menyebabkan percepatan partikel tersebut.
Istilah lain, yakni solar flare, merupakan ledakan intens radiasi dari pelepasan energi magnetik yang berhubungan dengan titik hitam Matahari.
Sedangkan lontaran massa korona atau corona mass ejection (CME) adalah ledakan besar angin surya, plasma isotop cahaya lain, dan medan magnet, yang melontar di atas korona Matahari atau dilepaskan ke angkasa.
Aktifitas Bintang 'Bayi'
Menurut para peneliti, pada 4 miliar tahun lalu sering terjadi badai Matahari. Peristiwa tersebut diduga dapat menghangatkan Bumi dan terjadinya kehidupan pun dimulai.
Namun, terdapat fakta yang membingungkan ilmuwan, yakni organisme pertama muncul di Bumi terjadi pada 4 miliar tahun lalu, saat cahaya Matahari hanya sekitar 70 persen dibanding saat ini.
"Hal tersebut berarti, dulunya Bumi adalah bola es," ujar ketua studi serta ilmuwan Goddard Space Flight Center NASA, Vladimir Airapetian.
"Sebaliknya, bukti geologi mencatat bahwa Bumi adalah bola hangat mengandung air. Kami menyebutnya sebagai Faint Young Sun Paradox," tambahnya.
Atas paradoks tersebut, Aiapetian dan rekan penelitinya memiliki penjelasan dengan menganalisis observasi yang dilakukan oleh Teleskop Kepler miilk NASA.
Menurut data Kepler, bintang baru biasanya sangat aktif, serta meledakkan solar flare dan CME yang lebih sering dibanding bintang yang telah berumur.
Sebagai contoh, Matahari biasanya meledakkan super flare setiap 100 tahun sekali. Namun pada bintang baru, ledakkan besar tersebut dapat terjadi 10 kali dalam sehari.
"Penelitian terbaru menunjukkan bahwa badai matahari menjadi pusat pemanasan Bumi," ujar Airapetian.
Efek pemanasan terjadi secara tak langsung melalui perubahan kimia di
atmosfer. Sekitar 4 juta tahun lalu, atmosfer Bumi terdiri dari 90
persen molekular nitrogen--terdiri dari dua atom nitrogen yang terikat,
sekarang jumlahnya telah turun hingga 78 persen.
Bumi dibuat bopeng bukan kepalang. Namun, dari peristiwa kolosal tersebut kehidupan akhirnya muncul -- setidaknya itu yang dikatakan para ilmuwan.
Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasi di jurnal Nature Geoscience, meyakini bahwa kehidupan di Bumi terbentuk karena badai Matahari besar yang terjadi pada jutaan tahun lalu.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai hasil penelitian tersebut, akan lebih baik jika kita mengenal beberapa istilah seperti badai Matahari, solar flare, dan lontaran massa korona atau CME.
Dilansir dari India Today, aktifitas magnetik yang menjalankan reaktor inti Matahari menyebabkan percepatan partikel tersebut.
Istilah lain, yakni solar flare, merupakan ledakan intens radiasi dari pelepasan energi magnetik yang berhubungan dengan titik hitam Matahari.
Sedangkan lontaran massa korona atau corona mass ejection (CME) adalah ledakan besar angin surya, plasma isotop cahaya lain, dan medan magnet, yang melontar di atas korona Matahari atau dilepaskan ke angkasa.
Aktifitas Bintang 'Bayi'
Menurut para peneliti, pada 4 miliar tahun lalu sering terjadi badai Matahari. Peristiwa tersebut diduga dapat menghangatkan Bumi dan terjadinya kehidupan pun dimulai.
Namun, terdapat fakta yang membingungkan ilmuwan, yakni organisme pertama muncul di Bumi terjadi pada 4 miliar tahun lalu, saat cahaya Matahari hanya sekitar 70 persen dibanding saat ini.
"Hal tersebut berarti, dulunya Bumi adalah bola es," ujar ketua studi serta ilmuwan Goddard Space Flight Center NASA, Vladimir Airapetian.
"Sebaliknya, bukti geologi mencatat bahwa Bumi adalah bola hangat mengandung air. Kami menyebutnya sebagai Faint Young Sun Paradox," tambahnya.
Atas paradoks tersebut, Aiapetian dan rekan penelitinya memiliki penjelasan dengan menganalisis observasi yang dilakukan oleh Teleskop Kepler miilk NASA.
Sebagai contoh, Matahari biasanya meledakkan super flare setiap 100 tahun sekali. Namun pada bintang baru, ledakkan besar tersebut dapat terjadi 10 kali dalam sehari.
"Penelitian terbaru menunjukkan bahwa badai matahari menjadi pusat pemanasan Bumi," ujar Airapetian.


